Perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan coding, telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan dasar, tetapi juga pada pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital. Dalam menghadapi perubahan tersebut, perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran, literasi, dan penguatan karakter peserta didik.
Perpustakaan modern tidak lagi sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi buku, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat sumber belajar yang dinamis. Dalam mendukung pembelajaran AI dan coding, perpustakaan dapat menyediakan beragam sumber informasi, baik cetak maupun digital, seperti buku pengantar AI, pemrograman dasar, platform pembelajaran daring, serta akses ke jurnal dan konten edukatif tepercaya. Ketersediaan sumber belajar ini membantu peserta didik dan pendidik memahami teknologi secara bertahap dan kontekstual.
Dikutip di laman kompas.com, yang dimuat Sabtu (24/1/2026) bahwa Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan coding kini telah menjadi mata pelajaran pilihan di sekolah. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan mengenalkan teknologi kepada siswa, tetapi juga menanamkan nilai, etika, dan karakter dalam pemanfaatannya secara bijak.
Menurut Mu’ti, penerapan AI dan coding dimulai sebagai mata pelajaran pilihan karena kesiapan guru dan infrastruktur pendidikan masih perlu diperkuat. Jika ke depan semua unsur telah siap, pembelajaran ini akan diperluas. Integrasi AI dan coding sebagai mapel pilihan telah dimulai sejak kelas V SD dan dirancang secara bertahap agar selaras dengan kondisi satuan pendidikan.
Selain penyediaan sumber informasi, perpustakaan berperan penting dalam penguatan literasi digital. Di era AI, peserta didik dihadapkan pada banjir informasi, termasuk konten manipulatif seperti gambar, suara, dan teks hasil rekayasa digital. Perpustakaan dapat menjadi ruang edukasi untuk mengajarkan kemampuan memilah informasi, mengevaluasi kredibilitas sumber, serta memahami etika dalam penggunaan teknologi dan kecerdasan artifisial. Literasi digital yang kuat menjadi fondasi agar peserta didik mampu memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Perpustakaan juga memiliki peran strategis dalam mendukung pendidikan karakter yang terintegrasi dengan pembelajaran teknologi. Nilai-nilai seperti kejujuran akademik, tanggung jawab, etika digital, dan penghargaan terhadap karya intelektual dapat ditanamkan melalui berbagai aktivitas literasi dan pembelajaran berbasis proyek. Dengan demikian, AI dan coding diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.
Lebih lanjut, perpustakaan dapat berfungsi sebagai ruang inovasi dan kolaborasi. Melalui kegiatan seperti pelatihan coding dasar, kelas literasi AI, diskusi tematik, hingga pemanfaatan ruang kreatif (makerspace), perpustakaan mendorong peserta didik untuk belajar secara aktif dan kolaboratif. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan memecahkan masalah, dan kreativitas.
Lebih lanjut Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan karakter tetap menjadi pondasi utama, termasuk dalam pembelajaran berbasis AI. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, melainkan terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah. Di sinilah perpustakaan berfungsi strategis sebagai wahana pembiasaan nilai kejujuran akademik, berpikir kritis, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
“AI harus kita posisikan sebagai alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya,” ujar Mu’ti. Pernyataan ini sejalan dengan peran perpustakaan yang sejak lama menjadi penjaga nilai kemanusiaan, keadaban, dan nalar kritis di tengah arus informasi yang semakin cepat dan masif.
Dalam konteks dunia kerja dan kehidupan sosial yang semakin terdampak oleh AI, perpustakaan berperan membantu dunia pendidikan menyiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan. Dengan memadukan fungsi edukatif, literatif, dan kultural, perpustakaan menjadi mitra strategis institusi pendidikan dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan beretika.
Dalam hal ini, perpustakaan berperan sebagai garda depan dalam membekali siswa atau mahasiswa dengan kemampuan memilah informasi, memverifikasi sumber, dan menggunakan teknologi secara etis. Dengan memperkuat fungsi edukatif perpustakaan, kebijakan pembelajaran AI dan coding di sekolah diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang cakap teknologi, tetapi juga berkarakter, beradab, dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran AI dan coding di dunia pendidikan menjadi semakin relevan dan penting. Melalui penguatan literasi digital, penyediaan sumber belajar, ruang inovasi, serta penanaman nilai dan karakter, perpustakaan berkontribusi nyata dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang siap menghadapi tantangan dan peluang di era kecerdasan artifisial.
