UPT. PERPUSTAKAAN DAN E-LEARNING

Banda Aceh, 12 Agustus 2026 – UPT Perpustakaan dan E-Learning Universitas Syiah Kuala (USK) Menyelenggarakan seminar bertajuk “Dari China untuk Aceh: Inspirasi Transformasi Pertanian, Pangan, dan Desa Berkelanjutan”. Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Rumoh Pangan Aceh (RPA) ini menjadi bagian dari upaya mendukung literasi ketahanan pangan sekaligus implementasi konsep Green Library yang saat ini terus dikembangkan oleh Perpustakaan dan E-Learning USK.( Rabu, 12 Agustus 2026) di ruang ganto multimedia center lantai 1.

Seminar yang selenggarakan secara hibrid yang di hadiri oleh 200 peserta, baik on side dan online ini yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, pegiat lingkungan, komunitas pertanian, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap isu ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan desa. Melalui forum ini, peserta diajak memahami berbagai praktik baik dan inovasi yang telah diterapkan dalam pembangunan sektor pertanian dan pangan yang berkelanjutan.

Kepala UPT Perpustakaan dan E-Learning USK, Prof. Suhartono, S.Si., M.Sc., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perpustakaan modern tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi dan pusat informasi akademik, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran masyarakat yang aktif dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Ketahanan pangan merupakan isu strategis yang membutuhkan dukungan pengetahuan, literasi, dan kolaborasi berbagai pihak. Melalui seminar ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang memperkaya wawasan masyarakat sekaligus mendukung program Green Library yang sedang dikembangkan oleh Perpustakaan dan E-Learning USK,” ujarnya.

Menurut Prof. Suhartono, konsep Green Library tidak hanya diwujudkan melalui pengelolaan gedung yang ramah lingkungan, tetapi juga melalui penyelenggaraan program literasi yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk edukasi mengenai pangan, pertanian berkelanjutan, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Direktur Yayasan Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi, S.Pd., M.Sc, menjelaskan bahwa penguatan literasi ketahanan pangan menjadi salah satu langkah penting dalam membangun masyarakat yang lebih mandiri dan tangguh menghadapi berbagai tantangan global. Pengalaman dan praktik pembangunan pertanian yang berhasil diterapkan di berbagai daerah, termasuk di China, dapat menjadi sumber inspirasi bagi Aceh dalam mengembangkan sistem pangan yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.

Selama seminar berlangsung, peserta memperoleh berbagai wawasan mengenai transformasi pertanian modern, pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan pangan, pengembangan desa berkelanjutan, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi interaktif yang membahas peluang penerapan berbagai inovasi tersebut di Aceh.

Kegiatan ini merupakan kontribusi Perpustakaan dan E-Learning USK dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya aspek tanpa kelaparan (Zero Hunger), pendidikan berkualitas (Quality Education), konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Responsible Consumption and Production), serta aksi terhadap perubahan iklim (Climate Action).

Sebagai perpustakaan yang baru saja meraih apresiasi dalam bidang perpustakaan hijau, Perpustakaan dan E-Learning USK terus berkomitmen menghadirkan program-program literasi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan. Melalui kolaborasi dengan Rumoh Pangan Aceh, diharapkan lahir lebih banyak inisiatif edukatif yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, praktik lapangan, dan kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan Aceh yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan.

Seminar ini menhadirkan 3 pemateri yaitu ; Rivan Rinaldi dari Rumoh Pangan Aceh, Saumi Al Kausar dari Aliansi Organis Indonesia dan Noor Avianto selaku Kordinator Fungsional Direktorat Pangan dan Pertanian Bapanas. Kegiatan ini membuktikan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pusat literasi yang mampu menjembatani berbagai isu pembangunan, termasuk ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan.

Scroll to Top