
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kamunikasi digital, perpustakaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat menyimpan koleksi buku. Perpustakaan telah berevolusi menjadi pusat pengetahuan, inovasi, dan pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat akademik secara cepat, tepat, dan adaptif. Salah satu teknologi yang kini menjadi perhatian dunia adalah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang menawarkan berbagai peluang untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan layanan perpustakaan.
Sebagai salah satu unit pendukung akademik di Universitas Syiah Kuala (USK), UPT Perpustakaan dan E-Learning berkomitmen untuk terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Integrasi kecerdasan buatan bukan hanya untuk sekadar mengikuti tren perkembangan teknologi, melainkan merupakan langkah strategis untuk menghadirkan layanan perpustakaan yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pemustakanya.
Kehadiran kecerdasan buatan ini telah membuka berbagai peluang dan tantangan baru dalam pengelolaan dan layanan perpustakaan. Pemanfaatan AI untuk membantu proses penelusuran informasi secara lebih cerdas melalui sistem pencarian yang memahami maksud pengguna, memberikan rekomendasi koleksi sesuai minat, serta dapat mendukung layanan referensi secara virtual, hingga membantu pengelolaan metadata dan klasifikasi koleksi secara lebih cepat. Kehadiran teknologi baru ini juga berpotensi mendukung analisis kebutuhan pengguna sehingga perpustakaan dapat mengambil keputusanyang berbasis data dalam pengembangan koleksi maupun peningkatan layanan.
Di lingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan AI juga memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi AI untuk menemukan sumber referensi ilmiah secara lebih efisien, untuk para dosen dan peneliti dapat memperoleh brbagai kemudahan dalam menelusuri literatur, mengelola sitasi, serta mengeksplorasi perkembangan ilmu pengetahuan terbaru. Terkait hal ini, perpustakaan hadir sebagai mitra akademik yang baik dan tidak hanya menyediakan akses informasi, tetapi juga dapat membimbing sivitas akademika agar mampu memanfaatkan AI secara bijaksana, beretika, dan bertanggung jawab secara akademik.
Kepala UPT Perpustakaan dan E-Learning USK, Prof. Dr. Suhartono, S.Si., M.Sc., disela kegiatan Sharing Session: Inovasi Perpustakaan Berbasis Teknologi dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) Rabu, 3/7/2026 mengatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) merupakan sebuah momentum penting bagi perpustakaan perguruan tinggi untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas layanan kepada sivitas akademika.
“Perpustakaan tidak boleh hanya di sekedar penonton di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Justru kita harus menjadi bagian dari transformasi tersebut dengan menghadirkan berbagai layanan yang lebih cerdas, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan pengguna di era digital. Integrasi kecerdasan buatan dalam pengelolaan dan layanan perpustakaan merupakan satu langkah strategis untuk memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat informasi, pembelajaran, dan inovasi,” ujarnya.
Menurut Prof. Suhartono, penerapan AI di UPT Perpustakaan dan E-Learning USK tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran pustakawan, melainkan menjadi teknologi pendukung yang dapat meningkatkan efektivitas layanan. Melalui pemanfaatan AI, perpustakaan diharapkan mampu menghadirkan layanan penelusuran informasi yang lebih cepat dan akurat , sistem rekomendasi koleksi yang lebih personal, layanan referensi virtual yang responsif, serta pengelolaan koleksi yang semakin efisien.
Namun demikian, transformasi perpustakaan berbasis AI bukan berarti untuk menggantikan peran pustakawan. Justru dengan kehadiran AI ini akan memperkuat peran pustakawan sebagai kurator informasi, fasilitator literasi digital, konsultan akademik, serta pendamping dalam proses pembelajaran dan penelitian. Peran manusia tetap menjadi faktor utama dalam memberikan layanan yang berorientasi pada kualitas, empati, dan integritas.
“Kami memandang AI sebagai mitra kerja bagi pustakawan. Teknologi dapat membantu pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif, sehingga pustakawan memiliki lebih banyak ruang untuk menjalankan fungsi strategis sebagai pendamping akademik, fasilitator literasi informasi, dan mitra dalam mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.
Pengintegrasian AI juga perlu dibarengi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Pustakawan dituntut untuk tetap terus mengembangkan kemampuan di bidang literasi digital, analisis data, pengelolaan informasi digital, hingga pemanfaatan berbagai aplikasi AI dalam pelaksnaan tugas sehari-hari. Oleh karena itu, penguatan kapasitas melalui pelatihan, workshop, sertifikasi, dan kolaborasi lintas disiplin menjadi investasi penting bagi keberlanjutan transformasi perpustakaan.
Selain kesiapan sumber daya manusia, aspek tata kelola juga harus menjadi perhatian utama. Pemanfaatan AI harus berlandaskan prinsip etika, transparansi, perlindungan data pribadi, penghormatan terhadap hak cipta, serta menjaga integritas akademik. Perpustakaan memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi pengguna bahwa AI merupakan alat bantu yang dapat meningkatkan produktivitas, bukan pengganti proses berpikir kritis, kreativitas, maupun kejujuran ilmiah.
UPT Perpustakaan dan E-Learning USK menyadari bahwa transformasi digital merupakan sebuah perjalanan yang membutuhkan kolaborasi seluruh sivitas akademika. Melalui penguatan infrastruktur teknologi, pengembangan layanan digital, peningkatan kapasitas pustakawan, serta integrasi kecerdasan buatan dalam berbagai layanan, perpustakaan siap menjadi pusat inovasi pembelajaran yang mendukung visi Universitas Syiah Kuala sebagai perguruan tinggi yang unggul, mandiri, dan berdaya saing global.
Ke depan, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat mencari informasi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi, eksplorasi ide, dan inovasi yang memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam pengelolaan dan layanan perpustakaan, UPT Perpustakaan dan E-Learning USK menunjukkan komitmennya untuk terus beradaptasi terhadap perubahan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih modern bagi seluruh sivitas akademikanya.
Perlu di ingat bahwa, transformasi bukanlah hanya sekadar penerapan teknologi, melainkan juga tentang bagaiman membangun ekosistem pembelajaran yang cerdas, inklusif, dan berkelanjutan. Di era kecerdasan buatan, perpustakaan tetap menjadi jantung pengetahuan—kini dengan dukungan teknologi yang mampu memperluas akses, mempercepat layanan, dan memperkuat budaya akademik di Universitas Syiah Kuala.